ETOS PRIBADI SERTA PEMBINAAN JIWA KORPS PNS

Definisi Etos

  • Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004:8).
  • Berdasarkan sumber www.artikata.com etos diartikan sebagai “pandangan hidup yg khas kebudayaan sifat, nilai, dan adat-istiadat khas yg memberi watak kpd kebudayaan suatu golongan sosial dl masyarakat, kerja semangat kerja yg menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok”.
  • Bertens memiliki pengertian agak berbeda terhadap etos. Menurutnya etika adalah terjemahan dari ethos dalam bahasa yunani.
  • Seperti halnya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah, istilah “etika’ pun berasal dari bahasa yunani kuno. Kata yunani “ethos’ dalam bentuk  unggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah: adat kebiasaan.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa etos adalah suatu nilai yang mendasari sikap perilaku dan menjadi ciri khas bagi seseorang atau kelompok di mana saja mereka berada.

Lingkup Pembahasan Etos Pribadi

Nilai dan norma

Nilai dapat kita artikan sebagai sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan, singkatnya, sesuatu yang baik.

Nilai moral

Ciri-ciri nilai moral yaitu:

1) Berkaitan dengan tanggung jawab kita.

2) Berkaitan dengan hati nurani.

3) Mewajibkan.

Berhubungan dengan ciri sebelumnya, nilai-nilai moral mewajibkan kita secara absolut dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini menyangkut pribadi manusia secara keseluruhan, sebagai totalitas.

4) Bersifat formal

Beberapa pertanyaan yang sering dikemukakan berhubungan dengan norma moral adalah: apakah norma moral itu absolut atau relatif, universal atau partikular, obyektif atau subyektif? Untuk mengetahui jawabannya marilah kita mulai dengan menyelidiki masalah yang biasanya disebut “relativisme moral”.

 

Relativisme moral tidak tahan uji

1) Seandainya relativisme moral itu benar, maka tidak bisa terjadi bahwa dalam satu kebudayaan mutu etis lebih tinggi atau rendah daripada dalam kebudayaan lain.

2) Seandainya relativisme moral itu benar, maka kita hanya perlu memperhatikan kaidah-kaidah moral suatu masyarakat untuk mengukur baik tidaknya perilaku manusia dalam masyarakat itu. Kalau begitu, norma moral dalam setiap masyarakat harus dianggap sempurna. Tidak akan mungkin memperbaiki norma-norma moral dalam suatu masyarakat. Padahal kita yakin bahwa kadang-kadang norma-norma moral dalam suatu kebudayaan harus direvisi. Misalnya mengubur janda hidup-hidup bersama dengan suami yang telah meninggal.

3) Seandainya relativisme moral itu benar, maka tidak mungkin terjadi kemajuan di bidang moral. Dilihat dalam perspektif sejarah, memang ada kemajuan di bidang moral (walaupun dalam beberapa hal barangkali ada juga kemunduran). Tanpa ragu-ragu kita menilai sebagai kemajuan bahwa sekarang tidak lagi dapat ditemukan perbudakan atau pembunuhan ritual, atau contoh lain penghapusan sistem penjajahan.

 

Semua konsekuensi dari relativisme moral tadi tidak bisa diterima. Kalau diselidiki secara kritis, relativisme moral tidak tahan uji. Oleh karena itu, hanya tinggal kemungkinan lain bahwa norma moral adalah absolut.

 

Obyektivitas norma moral

Baik buruknya sesuatu dalam arti moral tidak tergantung selera pribadi. Tidak mungkin bahwa bagi satu orang sesuatu adalah baik untuk dilakukan, sedang bagi orang lain hal yang sama adalah buruk.

 

Konsep diri.

Konsep diri (Self Concept) tidak lain dan tidak bukan adalah gagasan tentang diri kita sendiri, yakni suatu gagasan tentang bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan. Sementara itu, menurut Atwater, 1983, konsep diri didefinisikan sebagai “cara pandang kita yang merupakan pusat dari kesadaran dan tingkah laku kita. Konsep diri melibatkan perasaan, nilai-nilai yang kita anut, serta keyakinan-keyakinan kita.”

Konsep diri banyak mempengaruhi proses pengembangan diri (Self Development) dan menentukan siapa kita di kemudian hari. Hal ini terjadi karena konsep diri pada masing-masing individu terbagi menjadi 2, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.

Contoh konsep diri positif

  • Percaya diri.

Suatu keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri jika Tuhan bersama kita.

  • Optimis.

Selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi sesuatu.

  • Profesional.

Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankan pekerjaannya, tidak terpengaruh oleh apapun dalam mengemban tugas.

  • Rendah hati.

Merasa masih ada langit di atas langit, tidak sombong atas kemampuannya.

  • Peduli.

Mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan yang terjadi di sekitarnya.

  • Kreatif.

Memiliki daya ciptas memiliki kemampuan untuk menciptakan

 

Contoh konsep diri negatif.

  1. Mudah marah, peka terhadap kritik, cenderung mempertahankan pendapatnya meskipun pendapatnya itu salah.
  2. Suka dipuji, suka dielu-elukan, jika disebut gelar, makin merasa besar dan rajin bila dipuji.
  3. Senantiasa mengeluh, mencela, atau meremehkan orang lain dan tidak mengakui kelebihan orang lain.
  4. Pesimis serta takut bersaing dengan orang lain untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
  5. Pemarah, merasa sangat tidak senang, berang, gusar.
  6. Egois, mementingkan diri sendiri.
  7. Apriori, cepat berkesimpulan (negatif) sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
  8. Pesimis, bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka) mudah putus harapan.

Untuk membangun konsep diri positif maka diperlukan pikiran yang positif dan potential power. Potential power adalah suatu sikap bagaimana seseorang mengeathui potensi yang dimilikinya. Caranya adalah dengan mengetahui kesukaan, karakter pribadi, dan prestasi yang dimiliki. Potensi diri dapat dikembangkan melalui pendidikan, pengalaman, membaca, dan menulis.

Percaya diri.

Percaya diri adalah keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri jika Tuhan bersama kita. Keyakinan bahwa Tuhan bersama kita sangat penting sebab jika kita tidak mengikutkan Tuhan ketika kita yakin mampu melakukan sesuatu, maka ujungnya kita termasuk orang yang takabur/ujub/sombong karena menyepelekan kekuasaan Tuhan.

Ciri orang yang percaya diri.

1) Citra diri positif.

2) Berpusat pada potensi.

3) Positive Thinking.

4) Egaliter, sikap percaya bahwa semua orang sederajat.

5) Yakin aktivitasnya urgent.

6) Berani berbuat spektakuler.

7) Tidak takut gagal.

8) Yakin akan sukses.

Kita jangan pernah merasa takut gagal karena jika kita merasa takut akan kegagalan niscaya kegagalan itu akan benar-benar mendekati kita. Kita bisa melihat contoh orang-orang berikut ini yang tidak takut akan kegagalan dan terus berusaha.

1) Thomas A. Edison gagal 10.000 kali untuk menemukan lampu dan 50.000 kali untuk menemukan aki (accumulator)

2) Kolonel Sanders ditolak 1.000 toko namun perusahaan KFC miliknya sekarang menjadi salah satu restoran fast food terkenal di dunia.

3) Henry Ford bangkrut 5 kali sebelum menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar

Tips agar percaya diri.

Agar dapat percaya diri maka berpikirlah positif, kenali potensi diri, dan segera dalam mengambil tindakan. Dalam bahasa berbeda percaya diri dirumuskan sebagai berikut.

SC=PT+PPxA

Keterangan :

PT – Positive Thinking

PP – Potential Power

A – Action

SC – Self Confidence

 

Langkah praktis untuk meningkatkan percaya diri.

1)  Prakarsai pembicaraan

2) Biasakan bicara terus terang

3) Memelihara kontak mata

4) Berjalan lebih cepat

5) Berpenampilan rapi

6) Cari kemenangan-kemenangan kecil

7) Beri diri sendiri hadiah

8) Biasakan duduk dikursi terdepan

9) Simpan prestasi masa lalu

10) Bergaulah dengan orang yang percaya diri

11) Biasakan berbahasa positif

 

Kejujuran

Jujur adalah lawan kata dari bohong atau dusta. Jujur adalah kesesuaian antara berita yang disampaikan dan fakta, antara fenomena dan yang diberitakan, serta antara bentuk dan substansi. Jujur merupakan sikap pribadi. Jujur diekspresikan dengan kata-kata atau sikap yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tidak ditutupi atau bahkan tidak menipu. Jujur adalah energy positif. Menyatakan sesuatu dengan langsung, spontan, lugas, apa adanya akan menghemat waktu dan energy sehingga terjadilah efisiensi.

Apapun manfaat utama berlaku jujur dalam kehidupan adalah sebagai berikut :

1) Melaksanakan ajaran yang mulia dari agama dan budaya luhur yang dianut oleh bangsa manapun.

2) Akan dihormati oleh sesame manusia, karena semua orang menghargai kejujuran yang sejati.

3) Akan tampil percaya diri dalam semua kegiatan hidup, karena merasa aman, optimis, dan percaya diri.

4) Suatu generasi akan lebih berani melawan sesuatu yang tidak benar, karena  merasa tidak bersalah atau benar, dengan hatinya yang bersih.

 

Faktor pendorong seseorang berbohong :

1) Adanya kekurangan.

Kekurangan dalam diri seseorang baik secara fisik maupun materi bisa membawa seseorang itu melakukan kebohongan, karena dengan berbohong dia merasa semua yang kurang pada dirinya bisa tertutupi dan dirinya bisa diterima dilingkungan sekitarnya.

2) Ikut-ikutan.

Terkadang seseorang bohong dengan terpaksa untuk menutupi suatu masalah yang bersumber dari orang lain.

3) Demi kebaikan.

Seseorang ada pula yang berbohong demi kebaikan, misalnya seseorang berbohong agar tidak menyakiti perasaan orang lain, atau seseorang berbohong untuk menjaga suatu rahasia yang dapat mengakibatkan masalah yang sangat fatal jika diketahui oleh orang lain.

4) Menutupi rahasia.

Seringkali seseorang memiliki rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, Hal inimembawa orang tersebut untuk berbohong agar rahasianya tidak diketahui.

 

Pribadi Berintergritas

Integritas memiliki pengertian mempertahankan tingkat kejujuran dan etika yang tinggi dalam perkataan dan tindakan sehari-hari. Orang-orang yang kompeten, secara teliti dan handal berperilaku dengan cara yang etis dan dapat dipercaya dalam hubungan mereka dengan manajemen rekan kerja, bawahan langsung, dan pihak luar. Mereka memberlakukan orang lain secara adil.

a. Peran integritas.

 

1) Integritas sebagai Keterampilan.

. Integritas harus dilatih terus menerus, bukan sesuatu yang ada dalam kepribadian seseorang.

. Integritas diajarkan dan dipelajari sepanjang hidup.

2) Integritas sebagai Pedoman.

Integrity merupakan “bench mark’, rujukan atau tujuan yang digunakan dalam membuat keputusan yang berdasarkan pada kebenaran dan kejujuran.

3) Integritas sebagai Bangunan yang Kokoh.

. Integritas harus dibangun dan dilestarikan sepanjang hidup.

. Integrity merupakan suatu bangunan di dalam hati seseorang, dimulai ketika orang itu masih muda.

. Integritas harus dipelihara terus menerus , jika tidak maka bangunan yang sudah dibuat selama hidup dapat runtuh dalam waktu singkat.

4) Integritas sebagai Benih.

. Ditanam sejak kecil, disirami dan akan berbunga di saat dewasa

. Semakin rajin dirawat, akan lebih cepat tumbuh dan berbunga.

. Jika tanaman kita mati, harus segera menanam yang baru dan disirami tiap hari. Perlu diingat bahwa tanaman tidak bisa langsung berbunga, perlu waktu untuk kembali seperti semula.

 

b. Ciri-ciri integritas.

1) Integritas berasal dari sikap yang tidak mementingkan diri sendiri.

2) Integritas dibangun di atas dasar disiplin.

3) Integritas adalah kekuatan moral yang terbukti tetap benar di tengah api godaan.

4) Integritas adalah kemampuan untuk bersabar ketika hidup ini tidak berjalan mulus.

5) Integritas adalah ketahanan uji yang memerlukan perilaku yang dapat diduga.

6) Integritas adalah kekuatan yang tetap teguh sekalipun tidak ada yang melihat.

7) Integritas adalah menepati janji-janji, bahkan ketika merugikan Anda.

8) Integritas, tetap setia pada komitmen, bahkan ketika itu tidak nyaman.

9) Integritas, tetap teguh pada nilai-nilai tertentu meskipun dirasakan lebih popular untuk mencampakkannya.

10) Integritas, hidup dengan keyakinan, ketimbang dengan apa yang disukai.

11) Integritas adalah pondasi dari kehidupan. Jika baik, maka kehidupan baik, begitupun sebaliknya.

12) Integritas dibentuk melalui kebiasaan.

 

Komunikasi.

Menurut www.wikipedia.com komunikasi adalah “suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.

Fungsi komunikasi adalah sebagai alat kendali, pengawasan, motivasi, pengungkapan emosional, dan informasi. Untuk melaksanakan komunikasi dengan efektif dalam organisasi maka:

  1. Manajer harus menyadari pentingnya komunikasi.
  2. Manajer harus memadankan antara tindakan dan ucapan.
  3. Harus ada komitmen pada komunikasi dua arah.
  4. Penekanan pada komunikasi tatap muka.
  5. Tanggung jawab bersama untuk komunikasi karyawan.
  6. Menangani komunikasi buruk.
  7. Pesan dibentuk sesuai audiens
  8. Perlakuan komunikasi sebagai proses berkelanjutan.

 

Kepemimpinan.

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.

a. Teori kepemimpinan.

1)Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory ).

Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat — sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.

2) Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi.

Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.

a). Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.

b). Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh: bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.

Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.

3) Teori Kewibawaan Pemimpin.

Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

4) Teori Kepemimpinan Situasi.

Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

5) Teori Kelompok.

Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.

Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya.

 

b. Gaya kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, an berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.

Berdasarkan sumber emperorderva.wordpress.com menyebutkan gaya kepemimpinan yang disebutkan Blanchard sebagai berikut:

1) Directing.

Gaya tepat apabila kita dihadapkan dengan tugas yang rumit dan staf kita belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut. Atau apabila anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian. Dalam proses pengambilan keputusan, pemimpin memberikan aturan -aturan dan  proses yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah dikerjakan.

2) Coaching.

Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada bawahan tapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima barbagai masukan dari bawahan. Gaya yang tepat apabila staf kita telah lebih termotivasi dan berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan meluangkan waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.

3) Supporting.

Sebuah gaya dimana pemimpin memfasiliasi dan membantu upaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak memberikan arahan secara detail, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan dibagi bersama dengan bawahan. Gaya ini akan berhasil apabila karyawan telah mengenal teknik – teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan pemimpin.

4) Delegating.

Sebuah gaya dimana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan. Gaya Delegating akan berjalan baik apabila staf kita sepenuhnya telah paham dan efisien dalm pekerjaan, sehingga kita dapat melepas mereka menjalankan tugas atau pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri.

c. Kepemimpinan sejati.

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau tranformasi internal dalam diri seseorang.

Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang.

Sering kali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dam maximizer.

Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa “kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya”. Perubahan karakter adalah segala – galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

  1. Manajemen waktu.

Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya untuk bekerja. Sumber daya tersebut harus dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Efisien tidak lain mengandung dua makna, yaitu: makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi pada saat menggunakan waktu yang ada.

Manajemen waktu bertujuan kepada produktifitas yang berarti perbandingan antara rasio output dengan input. Merencanakan terlebih dahulu penggunaan waktu bukanlah suatu pemborosan melainkan memberikan pedoman dan arah bahkan pengawasan terhadap waktu.Setelah pengorganisasian terjadi,maka penggerakan pun dilakukan, yang mencakup pelaksanaan sendiri dan pemberian motivasi kepada pemegang delegasi. Satu hal yang penting ialah komitmen kuat untuk konsisten pada rencana dan mengeliminasi gangguan-gangguan. Akhirnya setelah selesai tuntas pekerjaan, dilakukanlah pengawasan berdasarkan rencana, yang tidak lupa memberikan reward terhadap keberhasilan.

Untuk dapat melakukan mannajemen waktu dengan baik maka pertama kita harus mengetahui terlebih dahulu misi hidup. Kemudian menentukan peran dan visi peran. Membuat rencana pekanan dan akhirnya membuat rencana harian. Waktu memiliki sifat yang sangat singkat dan tidak dapat digantikan karena itu penting untuk melakukan manajemen waktu. Melaksanankan manajemen waktu akan membuat hidup menjadi manatap dan bersemangat. Kehidupan menjadi seimbang dan selaras serta dapat mencapai cita-cita atau tujuan yang diharapkan. Dalam menjalani kehidupan kita harus berhati-hati terhadap jebakan waktu yang dikenal dengan 3F, 3M, dan 3S. Mereka adalah fun, food, film, mouth, music, money, sand, sport and sex.

  1. Manajemen konflik.

Konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa suatu pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan pihak pertama. Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4). Sementara itu manajemen konflik adalah penggunaan teknik pemecahan masalah dan perangsangan untuk mencapai konflik yang diinginkan.

  • Pandangan tentang konflik.

1) Pandangan tradisional, keyakinan bahwa semua konflik merugikan dan harus dihindari,

2) Pandangan hubungan manusia, keyakinan bahwa konflik merupakan hasil wajar dan tidak terelakkan dalam setiap kelompok,

3) Pandangan interaksionaliss keyakinan bahwa konflik bukan hanya suatu kekuatan positif dalam suatu kelompok, melainkan juga mutlak perlu untuk suatu kelompok agar dapat berkinerja efektif.

  • Bentuk konflik.

1) Konflik fungsional, konflik yang mendukung tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok,

2) Konflik disfungsional, konflik yang merintangi kinerja kelompok.

 

  • Tahapan perkembangan konflik.

1) Konflik masih tersembunyi (laten)

Berbagai macam kondisi emosional yang dirasakan sebagai hal yang biasa dan tidak dipersoalkan sebagai hal yang tidak mengganggu dirinya.

2) Konflik yang mendahului (antecedent condition)

Tahap perubahan dari apa yang dirasakan secara tersembunyi yang belum mengganggu dirinya, kelompok atau organisasi secara keseluruhan, seperti timbulnya tujuan dan nilai yang berbeda, perbedaan peran dsb.

3) Konflik yang dapat diamati (perceived conflict) dan konflik yang dapat dirasakan (felt conflict)

Muncul sebagai akibat antecedent condition yang tidak terselesaikan.

4) Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior)

Upaya untuk mengantisipasi timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya: individu, kelompok atau organisasi cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melelui perilaku.

5) Penyelesaian atau tekanan konflik

Pada tahap ini, ada dua tindakan yang perlu diambil terhadap suatu konflik, yaitu penyelesaian konflik dengan berbagai strategi atau sebaliknya malah ditekan.

6) Akibat penyelesaian konflik

7) Jika konflik diselesaikan dengan efektif dengan strategi yang tepat maka dapat memberikan kepuasan dan dampak positif bagi semua pihak. (wijono, 1993, 33-41).

 

  • Pengelolaan konflik.

Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:

1) Disiplin

2) Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan

3) Komunikasi

4) Mendengarkan secara aktif

5) Toleransi

 

  • Aspek positif dalam konflik.

1) Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.

2) Memberikan saluran baru untuk komunikasi.

3) Menumbuhkan semangat baru pada staf.

4) Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.

5) Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi

 

Urgensi Memiliki Etos Pribadi

Bagian ini akan menguraikan argumen pendukung tentang perlunya etos pribadi bagi setiap individu sebagai berikut:

  1. Menjadikan individu mahir mengenali dan memahami problem maupun isu moral dalam profesi.
  2. Peka terhadap kesulitan dan kepelikan sesungguhnya kesediaan mengalami dan mentoleransi ketidakpastian dalam membuat penilaian atas keputusan moral eseorang terhadap orang lain.
  3. Meningkatkan ketepatan dalam menggunakan bahasa etika yang lazim, yang diperlukan untuk mengungkapkan dan membela dengan cukup baik pandangan moral seseorang terhadap orang lain.
  4. Meningkatkan penghargaan baik terhadap kemungkinan penggunaan dialog rasional dalam memecahkan konflik-konflik moral maupun perlunya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan perspektif di kalangan orang -— orang yang secara moral cukup baik.
  5. Meningkatkan kemampuan untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan moral yang timbul karena aktifitas profesional
  6. Memperkuat otonomi moral. Otonomi moral meliputi independen dan kepedulian moral. Independen dalam hal mengatur diri sendiri dan adanya kemempuan berpikir dan kebiasaan berpikir secara rasional tentang isu-isu moral atas landasan kepedulian moral.

 

Faktor Pendorong Perilaku Tidak Etis

  1. Perilaku tidak etis.

Perilaku tidak etis adalah perkataan dan tindakan seseorang yang tidak sesuai dengan prinsip moral yang baik. Perilaku tidak etis seringkali berwujud tindakan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut.

Berikut ini adalah lima faktor yang sering dianggap sebagai pendorong perilaku

tidak etis menurut Kusmanadji:

  1. Ketakutan, misalnya karena takut dimarahi oleh atasan karena terlambat masuk kantor, seorang pegawai berbohong dalam memberikan alasan keterlambatannya, seorang bawahan harus melakukan hal-hal yang tidak etis karena takut dikenai sanksi.
  2. Tekanan, misalnya karena ditekan oleh atasannya oleh atasannya untuk mencapai hasil atau kinerja tertentu, seorang pegawai atau manajer memalsukan data kinerjanya.
  3. Ambisi, mendorong seseorang untuk melanggar hukum dan etika. Misalnya,karena ambisi kekuasaan maka seseorang tidak segan-segan melakukan skandal politik seperti politik uang, karena ambisi jabatan, seorang pegawai menjelek- jelekkan rekan pegawai lainnya di hadapan atasannya agar atasannya lebih memilih dirinya daripada rekannya.
  4. Balas dendam, misalnya karena dinilai melakukan kesalahan oleh atasannya, seorang pegawai berusaha mempermalukan atasannya tersebut di hadapan orang lain.
  5. Masa bodoh, yaitu kecendurungan untuk mengabaikan akibat-akibat dari Tindakan

Contoh perilaku tidak etis:

  1. Penjualan produk keluar negeri yang sudah terbukti merusak kesehatan dan tidak diperbolehkan di dalam negeri.
  2. Perusahan makanan bayi yang memaksakan suatu formula bagi bayi di banyak negara miskin sementara air susu ibu akan lebih sehat bagi bayi.
  3. Mengambil barang-barang kantor untuk dibawa pulang,
  4. Berbohong dengan alasan sakit untuk menutupi pekerjaan yang tidak beres,
  5. Perusahaan membayar upah pekerja yang rendah di beberapa Negara berkembang untuk membuat barang yang bernilai tinggi.
  6. Penipuan produk yang tidak sesuai dengan yang ditawarkan.
  7. Penjualan produk yang sudah kadaluwarsa.

Di antara faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya masalah-masalah etis yang tidak pernah terduga sebelumnya di zaman sekarang adalah perkembanan pesat dan menakjubkan di bidang ilmu dan teknologi yang mempunyai kedudukan penting.

  • Ambivalensi kemajuan ilmiah

Kemajuan yang dicapai berkat ilmu dan teknologi bersifat ambivalen, artinya di samping banyak akibat positif terdapat juga akibat-akibat negatif.

  • Masalah bebas nilai

Ilmu dan moral tidak merupakan dua kawasan yang sama sekali asing satu dengan yang lain tapi ada titik temu di antaranya. Pada saat-saat tertentu dalam perkembangannya ilmu dan teknologi bertemu dengan moral.

  • Teknologi yang tidak terkendali

Ilmu dan teknologi digalakkan dengan cara mengagumkan, tapi sedikit sekali perhatian diberikan kepada studi mengenai masalah-masalah etisnya.

  • Tanda-tanda yang menimbulkan harapan

Bukan saja sedikit perhatian utnuk etika dalam masyarakat, melainkan juga perhatian itu hampir selalu terlambat datang. Pemikiran etis hanya menyusul perkembangan ilmiah-teknologis. Baru sesudah problem-problem etis timbul, etika sebagai ilmu mulai diikutsertakan.

 

  1. Rasionalisasi Perilaku Tidak Etis

Berikut adalah cara-cara pembenaran atau rasionalisasi yang dimaksud yang biasanya kita jumpai.

» Setiap orang melakukannya (everybody does it)

Seseorang berperilaku tidak etis karena perilaku yang sama dilakukan oleh orang lain. Contoh : menyontek, melanggar rambu lalu lintas juga dilakukan oleh orang lain (rasionalitas)

» Jika suatu tindakan sah atau dibenarkan menurut hukum (legal), maka tindakan itu etis (if it’s legal, it’s ethical)

Menggunakan argumen bahwa semua perilaku yang legal adalah etis sangat mendasarkan pada kesempurnaan hukum. Misalnya, mengembalikan barang yang ditemukan kecuali orang lain atau pemiliknya dapat membuktikan bahwa itu miliknya.

 

2» Kemungkinan pengungkapan dan konsekuensi (likelihood of discovery and Conseguence)

Argumen ini mendasarkan pada evaluasi kemungkinan orang lain akan menemukan atau mengungkap perilaku. Lazimnya, seseorang juga menilai besarnya hukuman atau penalti (konsekuensi) jika terdapat pengungkapan tersebut. Sebagai contoh, perlukah mengembalikan uang pembayaran gaji yang ternyata berlebih karena secara tak sengaja petugas salah menghitung?

Cara Membangun Etos Pribadi

Bagaimana cara membangun etos pribadi maka jawabannya adalah dengan menciptakan citra diri sebagai seseorang yang beretika dan memiliki rencana agar selalu dicitrakan seperti itu.

  • Lima prinsip berperilaku etis.

Norman Vincent Pale dan Kenneth H. Blanchard mengemukakan lima prinsip untuk berperilaku etis yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar menjadi pribadi beretika. Kelima prinsip tersebut dijabarkan sebagai berikut:

  1. Tujuan (purpose).

Misi kita sebagai individu yang dinyatakan secara jelas, sederhana, dan didasarkan pada nilai-nilai, harapan, dan visi kita. Tujuan ini sangat penting karena membantu kita dalam menentukan perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima.

2. Perspektif (perspective).

Meluangkan waktu untuk merenung dan berpikir bagaimana dan kemana akan melangkah dan mencapai tujuan.

3. Kesabaran (patience).

Merupakan hal yang dibutuhkan untuk memperoleh keyakinan bahwa berpegang teguh pada nilai-nilai etika akan membawa kita dalam kesuksesan jangka panjang.

4. Keteguhan (persistence).

Keteguhan memerlukan adanya komitmen untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip etika yang tidak luntur karena berjalannya waktu.

5. Kebanggaan (pride).

Kebanggaan akan kita peroleh ketika kesabaran dan keteguhan berhasil untuk dipertahankan.

 

  1. Unsur etos pribadi.

 

Terdapat tiga poin yang menjadi unsur etos pribadi yang akan diuraikan pada bagian ini.

  • Komitmen etis.

Memiliki pendirian dan kemauan yang kuat untuk bertindak secara etis. Menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, seseorang disebut berkomitmen “when you are willing to give your time and energy to something that you believe in, or a promise or firm decision to do something”, ketika bersedia memberikan waktu dan energi untuk sesuatu yang kita yakini, atau sebuah janji, atau sebuah keputusan bulat untuk melakukan sesuatu. Semua orang mempunyai keterbatasan waktu dan energi, tetapi dengan komitmen yang baik, waktu dapat “dibuat” dan energi dapat “dikumpulkan”.

  • Kesadaran etis.

Suatu kemampuan untuk mempersepsikan (memahami) isu-isu etis dan implikasi-implikasi etis dari suatu situasi.

  • Kompetensi etis.

Untuk memilih yang benar kita harus memiliki kemampuan untuk melakukan penalaran moral yang sehat dan mengembangkan strategi-strategi praktis penyelesaian masalah. Selama ini kompetensi dimaknai sebagai kemampuan untuk menguasai jenis kemampuan, yaitu pengetahuan, keterampilan teknis, dan sikap perilaku.

 

Dengan mengutip R.Pahlan (Competency Management: A Practicioner’s Guide, terjemahan, 2007), dapat menggali lima istilah dalam definisi kompetensi sebagai berikut.

1) Karakter Dasar diartikan sebagai kepribadian seseorang yang cukup dalam dan berlangsung lama. Dalam definisi ini, karakter dasar mengarah pada motif, karakteristik pribadi, konsep diri dan nilai-nilai seseorang.

2) Kriteria Referensi berarti bahwa komptensi dapat diukur berdasarkan standar atau kriteria tertentu. Dapat diukur faktor-faktor pembentuk terjadinya kinerja karyawan yang beragam (unggul, biasa, dan rendah).

3) Hubungan Kausal mengindikasikan bahwa keberadaan suatu kompetensi dan pendemonstrasiannya memprediksi atau menyebabkan suatu kinerja unggul. Contohnya, kompetensi pengetahuan selalu digerakkan oleh kompetensi motif, karakteristik pribadi, atau konsep diri.

4) Kinerja Unggul mengindikasikan tingkat pencapaian,misalnya dari sepuluh persen tertinggi dalam suatu situasi kerja.

5) Kinerja Efektif adalah batas minimum tingkat hasil kerja yang dapat diterima. Ini biasanya merupakan garis batas dimana karyawan yang hasil kerjanya di bawah garis ini dianggap tidak kompeten untuk melakukan pekerjaan tersebut.

 

  1. Pemeriksaan 3K.

Memeriksa apakah suatu tindakan kita etis atau tidak dapat dilakukan dengan sebuah pemeriksaan etika yang lebih dikenal dengan sebutan pengecekan tga K. sebagai seorang pribadi. Maka dari itu dikenallah istilah pengecekan tiga K yang meliputi kepatuhan, kontribusi, dan konsekuensi.

  1. Kepatuhan.

Berarti hidup dan berperilaku sesuai dengan aturan hukum, kode etik, aturan organisasi, prinsip-prinsip moral, harapan masyarakat, dan konsep umum lain seperti

kejujuran dan keadilan. Kita harus menyadari bahwa untuk posisi dan peran tertentu yang kita jalani, kita bertanggung jawab tidak hanya untuk perbuatan kita sendiri, tetapi juga perbuatan orang lain.

 

2. Kontribusi.

Kontribusi berkaitan dengan apa yang kita berikan atau sumbangkan kepada orang lain atau masyarakat. Bagi organisasi bisnis, misalnya, kontribusi meliputi memberikan penghargaan untuk kemitraan pelanggan, menyediakan lapangan kerja, membantu individu dan masyarakat memenuhi kebutuhannya, dan memperbaiki kualitas kehidupan para pegawai serta masyarakat secara keseluruhan.

3. Konsekuensi.

Konsekuensi berkaitan dengan pengaruh atau akibat dari keputusan dan perbuatan kita. Akibat ini bisa positif atau negatif, baik diniatkan maupun tidak diniatkan. Ini berarti bahwa kita harus selalu memperhitungkan akibat-akibat perbuatan kita bagi diri sendiri dan orang lain dan berusaha untuk memilih alternatif yang paling baik akibatnya bagi pihak-pihak terkait.

Mengacu pada tiga K maka kita dapat melakukan hal-hal berikut ini sebelum mengambil tindakan.

  • Patuhi, tetapi jangan bergantung semata-mata pada ketentuan hukum.
  • Patuhi kaidah-kaidah moral.
  • Hormati kebiasaan orang lain, tetapi tidak dengan mengorbankan prinsip etika Anda sendiri.
  • Pertimbangkan kesejahteraan orang lain, termasuk pihak-pihak yang tidak berpartisipasi.
  • Berpikirlah sebagai seorang anggota organisasi atau komunitas, bukan sebagai individu yang terisolasi.
  • Pikirkan diri sendiri (dan organisasi atau komunitas Anda) sebagai bagian dari masyarakat.
  • Berpikirlah secara objektif.
  • Ajukan pertanyaan, “Jenis orang seperti apakah yang melakukan perbuatan semacam ini?”

 

Pembinaan Jiwa Korp Pegawai Negeri Sipil

Pengertian Jiwa Korp PNS :

  1. Rasa Kesatuan dan persatuan,
  2. Kebersamaan,
  3. Kerja sama,
  4. Tanggung jawab,
  5. Dedikasi,
  6. Disiplin,
  7. Kreativitas,
  8. Kebanggaan dan
  9. Rasa memiliki organisasi PNS dalam NKRI.

Untuk memperoleh pegawai negeri sipil yang kuat, kompak dan bersatu padu, memiliki kepekaan, tanggap dan memiliki kesetiakawanan yang tinggi, berdisiplin, serta sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat diperlukan pembinaan jiwa korps dan kode etik pegawai negeri sipil. Pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan: Perjuangan, pengabdian, kesetiaan dan ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,

 

Tujuan Pembinaan Jiwa Korp PNS :

Membina karakter/watak, memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluagaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan, dan keteladanan PNS.

Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara, dan abdi masyarakat,

Menumbuhkan dan meningkatkan semangat, kesadaran, dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam NKRI.

 

Ruang Lingkup Pembinaan Jiwa Korp PNS :

  • Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS
  • Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS
  • Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningingkatkan jiwa korps PNS
  • Perlindungan terhadap hak- hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dg peraturan perUU-an yang berlaku, dengan tetap mengedapan kan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Nilai-Nilai Dasar bagi PNS :

  1. Ketagwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
  2. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945
  3. Semangat nasionalisme,
  4. Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan
  5. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan,
  6. Penghormatan terhadap hak asasi manusia,
  7. Tidak Diskriminatif
  8. Profesionalisme, netralitas, dan bermoral tinggi,
  9. Semangat jiwa korps.

 

Tinggalkan komentar