Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal terhadap Permintaan Agregat

Selamat datang di materi Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal terhadap Permintaan Agregat, Ayo comeback di UAS, yik bisi yik!

Teori Preferensi Likuiditas adalah teori Keynes yang menyatakan bahwa suku bunga akan bergerak untuk menyeimbangkan jumlah uang beredar dan jumlah permintaan uang. 

Keseimbangan dalam Pasar Uang 

Menurut teori preferensi likuiditas, suku bunga akan mnyesuaikan diri untuk menyembangkan jumlah uang beredar. Jika suku bunga berada di atas keseimbangan (seperti pada r1) jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat (M1d) lebih sedikit daripada yang diciptakan oleh The Fed, dan kelebihan uang ini menurunkan suku bunga. Sebaliknya, jika suku bunga berada di bawah keseimbangan seperti pada r2, jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat (M2d) lebih besar dari pada jumlah yang telah diciptakan oleh The Fed, sehingga kekurangan uang ini akan menaikkan suku bunga. Oleh karena itu, kekuata penawaran dan permintaan uang dalam pasar uang akan mendorong suku bunga kea rah tingkat keseimbangannya, yang membuat masyarakat cukup dengan jumlah yang mereka pegang sekarang, yaitu sejumlah yang telah The Fed ciptakan. 

Pasar Uang dan Kemiringan ke Bawah Kurva Permintaan Agregat 

Naiknya tingkat harga dari P1 ke P2 menggeser kurva permintaan uang ke kanan, seperti pada panel (a). Peningkatan jumlah permintaan uag ini menyebabkan suku bunga naik dari r1 ke r2. Karena suku bunga ini adalah biaya peminjaman maka peniingkatnnya mengurangi jumlah permintaan barang dan jasa dari Y1 ke Y2. Hubungan negative antara harga dan jumlah permintaan diwakili oleh kurva permintaan agregat yang miring ke bawah seperti pada panel (b). 

Perubahan Jumlah Uang beredar
Injeksi Moneter 

Pada panel (a) meningkatnya jumlah uang beredar dari MS1 ke MS2, menurunkan suku bunga keseimbangan dari r1 ke r2. Karena suku bunga ini adalah biaya peminjaman maka turunnya suku bunga meningkatkan permintaan barang dan jasa pada semua tingkat harga dari Y1 ke Y2. Oleh karena itu kurva permintaan agregat pada panel (b) bergeser dari AD1 ke AD2. 

Efek Penggandaan 

Efek penggandaan adalah pergeseran tambahan pada permintaan agregat yang terjadi ketika kebijakan ekspansif menyebabkan pendapatan naik yang menyebabkan pembelanjaan konsumen juga naik. (Ekspansif artinya menambah jumlah uang beredar, lawannya kontraktif yaitu mengurangi jumlah uang beredar). 

Meningkatnya pembelanjaan pemerintah sebsesar $20 miliardapat menggeser ke kanan permintaan agregat dengan nilai yang lebih besar dari pada $20 miliar. Efek penggandaan muncul karena peningkatan pendapatan agregat akan mendorong pembelanjaan yang lebih oleh konsumen. 

Rumus Penggandaan 

MPC + MPS = 1 

Dimana MPC adalah marginal propensity to consume yaitu bagian pendapatan bersih yang digunakan untuk belanja oleh konsumen. MPC bernilai dari 0 sampai 1. Contoh MPC = 0,7, artinya 70% pendapatan akan digunakan untuk konsumsi. Sisanya yaitu 0,3 adalah MPS (marginal propensity to saving), yang artinya 30% dari pendapatan akan digunakan untuk menabung. 

Contoh:

Jika diketahui pemerintah menambah pengeluaran sebesar $20 miliar, sedangkan MPC adalah 0,6. Berapakah pertambahan permintaan agregatnya?

Efek pengganda ini tidak hanya berlaku untuk belanja pemerintah saja, tapi berlaku untuk semua komponen GDP. GDP = Y + I + G + NX. Ketika konsumsi (C) bertambah, maka dengan adanya efek pengganda maka AD akan bergeser lebih jauh ke kanan. 

Baca Juga: PIE – Pertumbuhan Uang dan Inflasi

Efek Pembatasan Paksa (Crowding Out Effect)
Efek pembatasan paksa adalah diimpaskannya pergeseran pada AD krena kebijakan fiskal yang ekspansif meningkatkan suku bunga yang menyebabka pembelanjaan suku bunga berkurang. 

Panel (a) memperlihatkan situasi di pasar uang. Ketika pemerintah meningkatkan pembelanjaan berbagai barang dan jasa kenaikan pendapatan yang diakibatkannya juga menaikkan permintaan uang dari MD1 ke MD2, dan hal ini menyebabkan suku bunga naik dari r1 ke r2. Sementara itu panel (b) menunjukkan dampaknyaterhadap permintaan agregat dari AD1 ke AD2. Kerana suku bunga adalah biaya peminjaman maka kenaikkan suku bunga akan mengurangi permintaan barang dan jasa, terutama barang-barang modal atau investasi. Pembatasan paksa pada investasi ini akan mengimpaskan sebagian dampak ekspansi fiskal terhadap permintaan agregat. Pada akhirnya kurva permintaan agregat hanya bergeser ke AD3. 

Ketika pemerinah menambah pembelanjaan sebesar $20 miliar maka permintaan agregat akan bertambah lebih besar dari $20 miliar atau kurang dari itu, bergantung pada efek mana yang lebih besar, penggandanya atau pembatasan paksanya. 

Perubahan dalam Perpajakan
Pajak termasuk perangkat fiskal. Pengurangan tarif pajak akan menambah pendapatan bersih konsumen (oendapatan setelah dikurangi pajak) yang akan menggeser kurva AD ke kanan yang besarnya pergeseran dipengaruhi efek pengganda dan efek pembatasan paksa. Demikian juga ketika pemerintah menambah tarif, akan menggeser permintaan agregat ke kiri. 

Stabilisator Otomatis
Stabilisator otomatis adalah berbagai perubahan kebijakan fiskal yang merangsang permintaan agregat saat perekonomian mengalami resesi tanpa harus menunggu tindakan para pembuat kebijakan. Bentuk stabilisator otomatis yang paling penting adalah perpajakan, Ketika perekonomian mengarah ke resesi, maka jumlah pajak yang dipungut oleh pemerintah turun dengan sendirinya (karena pendapatan masyarakat turun maka jumlah pajak yang diterima pemerintah juga akan turun). Pengurangan jumlaha pajak ini akan menambah permintaan agregat dan mengurangib efek resesi. 

terimakasih sudah berkunjung ke materi Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal terhadap Permintaan Agregat

Tinggalkan komentar