Standard Costing

1. Pengertian Standard Costing (Biaya Standar) 

Biaya Standar (Standard Costing) adalah biaya yang telah ditentukan sebelumnya untuk memproduksi satu unit atau sejumlah produk tertentu selama suatu periode tertentu. Biaya standar adalah biaya yang direncanakan untuk suatu produk dalam kondisi operasi saat ini atau yang diantisipasi. 

Biaya Standar mempunyai 2 komponen yaitu : 

  1. Physical Standard (Standar Fisik) Quantity Standard 
  2. Price Standard (Standar Harga) Rate Standard

Biaya Standar dapat digunakan baik pada metode process costing maupun job order costing, dan penetapan biaya standar paling tepat untuk diterapkan pada lingkungan pabrik dimana teknologi produksi relatif stabil dan produk yang dihasilkan bersifat homogen di dalam unit akumulasi biaya. 

Perhitungan biaya standar diterapkan dalam perhitungan biaya berdasarkan proses (process costing) seperti produsen minyak dan produk kimia, perlengkapan bangunan, baja, dan minuman ringan. Perhitungan biaya standar diterapkan dalam perhitungan biaya berdasarkan pesanan yang menghasilkan unit-unit homogeny yang diproduksi dalam batch untuk setiap pesanan seperti produsen radio dan televise, furniture, produk kertas, dan makanan olahan. 

Fungsi Standard Costing (Biaya Standar) 

  1. Menetapkan anggaran 
  2. Mengendalikan biaya dan mengukur efisiensi operasi 
  3. Menyederhanakan prosedur perhitungan biaya dan mempercepat laporan biaya 
  4. Pembebanan biaya ke Direct Material, Work in Process, dan Finished Goods 
  5. Memberikan dasar penetapan tawaran kontrak dan harga jual. 

Menetapkan Standard Costing (Biaya Standar) 

Secara garis besar, standar dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : 

1) Standar Dasar (Basic Standard) adalah tolok ukur yang digunakan untuk membandingkan kinerja yang diharapkan dengan kinerja aktual 

2) Standar yang berlaku (Current Standard) terdiri atas tiga jenis : 

    1. Standard aktual yang diharapkan (expected actual standard) adalah standar yang ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan efisiensi yang diharapkan akan terjadi. Standar ini merupakan estimasi yang cukup wajar atas hasil aktual. 
    2. Standar normal (normal standard) adalah standar ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan efisiensi yang normal, yang dimaksudkan sebagai suatu tantangan yang bisa dicapai. 

Standard teoritis (theoretical standard) yaitu standar yang ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan efisiensi yang ideal atau maksimum, standar ini lebih merupakan sasaran dan bukan sebagai prestasi kerja yang harus dicapai pada saat ini.

2. Aplikasi Standard Costing Pada Direct Cost

Perusahaan yang menggunakan system standard costing, perusahaan perlu menetapkan beberapa standar biaya sebagai berikut :

    1. Jumlah input standar atas raw material yang akan digunakan untuk menghasilkan satu unit output
    2. Harga dari setiap unit input atas raw material yang dibeli
    3. Jumlah jam tenaga kerja langsung yang dikonsumsi untuk menghasilkan satu unit output
    4. Tarif upah tenaga kerja langsung untuk setiap jamnya
    5. Jumlah biaya tidak langsung (FOH) yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unti output 
    6. Tarif atas FOH untuk setiap satu satuan basis alokasi

Standar biaya diatas dibuat dengan menggunakan asumsi bahwa proses produksi berjalan pada kapasitas normal yang artinya produksi tetap berjalan pada kapasitas maksimal dengan mempertimbangkan interupsi-interupsi wajar seperti perbaikan. Lalu standar biaya yang dibuat, diterapkan pada setiap komponen biaya manufaktur di sepanjang periode berjalan. Pada akhir periode, manajer melakukan pembandingan antara biaya standar dengan keadaan actual yang nyata-nyata terjadi.

3. Konsep Dasar Variance dan Perhitungannya pada direct cost

Dalam membandingkan biaya standar dengan biaya actual yang benar-benar dikeluarkan oleh perusahan, wajar apabila terdapat perbedaan diantara keduanya. Perbedaan tersebut dikenal dengan istilah Variance. Setiap varians merupakan suatu sinyal yang sebaiknya diidentifikasi dan dianalisis. Suatu varians dapat disebabkan oleh kejadian acak yang tidak diharapkan terulang kembali, masalah sistematis yang dapat diperbaiki, atau standar yang tidak tepat. Misalnya, jika proses manufaktur berubah, maka standar fisik juga mugkin berubah.

Ada dua jenis varians, yakni :

  • Varians yang menguntungkan (favorable), adalah varians yang memiliki pengaruh meningkatkan laba operasi relative terhadap jumlah yang dianggarkan.
  • Varians yang tidak menguntungkan (unfavorable), adalah varian yang memiliki pengaruh menurunkan laba operasi relative terhadap jumlah yang dianggarkan

Dalam beberapa kasus, varians di departemen-departemen yang berbeda saling terkait. Penentuan hubungan semacam itu penting ketika varians yang menguntungkan di suatu area ditiadakan oleh varians tang tidak menguntungkan di area lain yang terkait.

Varians dalam buku hongren dalam tiga level, yakni :

3.A Level 1 ( Static budget Varians)

Static budget varians, adalah perbedaan hasil antara hasil actual dan jumlah yang dianggarkan dalam anggaran statis ( anggaran induk yang didasarkan pada tingkat output yang direncanakan ada awal periode). Varians ini disebut statis karena anggaran untuk periode terebut dibuat dengan suatu tingkat output yang direncanakan.

3.B Level 2 ( flexible budget varians dan sales volume varians)

Level 2 menunjukkan analisis varians berdasarkan anggaran fleksibel (anggaran yang menghitung pendapatan dan biaya yang dianggarkan berdasarkan output actual dalam periode anggaran).

Level 2 membagi level 1 (varians anggaran statis ke dalam dua bagian, yaitu :

Sales volume varians, yakni itu perbedaan antara jumlah anggaran fleksibel dengan anggaran statis yang berkaitan dengan kuantitas barang yang dijual.

Flexible budget varians, yakni perbedaan antara hasil aktual dan jumlah anggaran fleksibel yang berkaitan berdasarkan tingkat output aktual pada periode anggaran

3.C Level 3 (Price/rate varians & Efficency Varians)

  • Price/rate varians. Yakni perbedaan antara harga aktual dengan harga yang dianggarkan dikali denga kuantitas input aktual. Price varians kadang-kadang disebut juga varians input atau varians tingkat upah, terutama gila mengacu pada varians harga untuk tenaga kerja langsung.
  • Efficiency varians, yakni peredaan antara kuantitas input aktual yang digunakan dan kuantitas input yang dianggarkan untuk membuat output aktual, dikali dengan harga yang dianggarkan. Varians efisiensi  kadang-kadang disebut juga varians penggunaan atau usage varians.

 4. Analisis varians di setiap komponen biaya produksi

4.A. Direct material varians

ditinjau dari dua titik, yaitu saat pembelian dan saat penggunaan.

 4.A.1 Saat pembelian

Material Purchase Price Variance = (AQp x AR ) – ( AQp x SR

AQp = Actual Quantity purchased

AR = Actual Rate atau Actual Price

SR = Standard Rate atau Standard Price

 4.A.2 Saat penggunaan

Material Usage Price Variance = ( AQu x AR ) – ( AQu x SR )
Material Efficiency Variance = ( AQu x SR ) – ( AMQ x SR )
Flexible budget variance = Material Usage Price Variance + Material Price Effiency Variance

AMQ = Allowed Modified Quantity atau Standar quantity allowed for actual output
AMQ merupakan jumlah input yang dikonsumsi sesuai dengan standarnya, unutk menghasilkan sejumlah riil output yang telah dihasilkan.

Khusus untuk DM, terdapat satu lagi varians yaitu  Material Inventory Variance.  Material inventory variance ini membandingkan kuantitas materuak yag dbeli dengn kuantitas material yang digunakan, dapat dirumuskan sebagai berikut :

Material Inventory Variance = ( AQp x SR ) – ( AQu x SR )

AQp = Actual Quantity Purchased

AQu = Actual Quantity Used

4.B Direct Labor Variance

Labor Rate Variance = ( AQ x AR ) – ( AQ x SR )
Labor Efficiency Variance = ( AQ x AR ) – ( AMQ x SR )

4.C Factory Overhead

Factory overhead memiliki unsur yang fixed dan variable.

Variable FOH

Spending Variance = ( AQ x AR ) – ( AQ x SR )
Efficiency Variance ( V-FOH) = ( AQ x SR ) – ( AMQ x SR )

Fixed FOH

Spending Variance = ( AQ x AR ) – ( AQ x SR )
Idle Capacity Variance = ( AQ x SR ) @normal Cap. – ( AQ x SR ) @actual cap.
Efficiency Variance ( F-FOH ) = ( AQ x SR ) @actual cap  – ( AMQ x SR )
Volume Variance = ( AQ x SR ) @ normal Cap. – ( AMQ x SR )

4.D Total FOH

Analisis variance untuk total FOH dilakukan dengan menjumlahkan carian masing-masing komponen fixed FOH melalui beberapa pendekatan :

4.D.1 Two Variance Analysis

Terdiri dari Controllable Variance ( Spending variance + Efficiency variance

4.D.2 Three Variance Analysis

Terdiri dari  Spending Variance, Efficiency Variance (V-FOH), dan Volume Variance

4.D.3 Four Variance Analysis

Terdiri dari Spending variance, Efficiency Variance (V-FOH), idle Capacity Variance, dan Efficiency variance (F-FOH)

5. Pencatatan ( penjurnalan ) Standard Costing untuk Direct Costing

5.A Pencatatan Direct Material

Pencatatan atas DM dapat dilakukan dengan menggunakan tiga alternatif dan dilakukan pada dua titik, yakni pencatatan atas material pada saat dibeli dan pencatatan atas material pada saat material digunakan

Method 1 : Material recorded at standard Price (SR)

Saat Pembelian
Saat Pemakaian

Method 2 : Material Recorded at Actual Price (AR) as the payment

Saat Pembelian
Saat Pemakaian

Method 3 : Material are recorded at standard Price (SR) and variance adjustment

Saat Pembelian
Saat Pemakaian

5.B Pencatatan Direct Labor

Pencatatan Gaji dan Upah
Pembebanan Gaji dan Upah

5.C Pencatatan Factory Overhead

Pencatatan Foh Sesungguhnya
Pembebanan FOH

5.D Varian dan Penutupan FOH

*1 varians
*2 Varians
*3 Varians
*4 Varians

*ASUMSI SEMUA VARIANS DALAM KEADAAN UNFAVORABLE ( MENGURANGI NET INCOME ) SEHINGGAN BERADA DI DEBIT, JIKA VARIANS BERSIFAT FAVORABLE (MENAMBAH NET INCOME ) MAKA PENJURNALANNNYA BERADA DI “KREDIT”.

Tinggalkan komentar