Istilah “Revolusi Industri” diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Dekade terakhir ini, sudah dapat disebut mamasuki fase ke empat. Perubahan fase ke fase memberi perbedaan artikulatif dari sisi kegunaannya. Fase pertama (1.0) bertempuh pada penemuan mesin uap yang menitikberatkan pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada produksi massal yang terintegrasi dnegan quality control dan standarisasi. Fase ketiga (3.0) memasuki pada tahapan keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase keempat (4.0) telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dan manufaktur.

Revolusi Industri memiliki empat prinsip yang memungkinkan setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario industri 4.0 . Diantaranya adalah:
- Interkoneksi (sambungan); kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media internet untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).
- Transparansi Informasi; kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor.
- Bantuan Teknis; pertama kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi manusia.
- Keputusan Mandiri; kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan dan melakukan tugas semandiri mungkin.
Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya, industri akan semakin kompak dan efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul, misalnya berkurangnya Sumber Daya Manusia karena digantikan oleh mesin atau robot. Dunia saat ini memang tengah mencermati revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada di situ, tapi di sisi lain terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi.
Empat Fase Revolusi Industri
| Fase | Perkiraan waktu | Pendorong utama |
|---|---|---|
| Industri 1.0 | Akhir abad ke-18 | Mesin uap dan mekanisasi produksi. |
| Industri 2.0 | Awal abad ke-20 | Listrik, ban berjalan, dan produksi massal. |
| Industri 3.0 | Dekade 1970-an | Elektronika, komputer, dan otomasi. |
| Industri 4.0 | Dekade 2010-an | Sistem siber-fisik, internet, dan data. |
Teknologi Pendukung Industri 4.0
- Internet of Things (IoT) — perangkat saling terhubung dan bertukar data secara mandiri.
- Big data dan analitik — pengolahan data bervolume besar untuk menemukan pola dan mendukung keputusan.
- Kecerdasan buatan — sistem yang belajar dari data dan mengambil keputusan.
- Komputasi awan — sumber daya komputasi yang elastis dan dapat diakses dari mana saja.
- Robot otonom — mesin yang bekerja tanpa pengawasan langsung manusia.
- Manufaktur aditif — pencetakan tiga dimensi untuk purwarupa dan produksi.
- Simulasi dan digital twin — replika digital dari proses fisik untuk pengujian tanpa risiko.
- Augmented reality — informasi digital yang ditumpangkan pada pandangan dunia nyata.
- Keamanan siber — perlindungan sistem yang kini saling terhubung.
Making Indonesia 4.0
Pemerintah Indonesia meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 pada tahun 2018 sebagai strategi menghadapi era ini. Lima sektor manufaktur ditetapkan sebagai prioritas awal: makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Kelima sektor tersebut dipilih karena kontribusinya besar terhadap produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja.
Dampak dan Tantangan
| Peluang | Tantangan |
|---|---|
| Produktivitas dan efisiensi meningkat | Pekerjaan rutin tergantikan otomasi |
| Biaya produksi menurun | Kesenjangan keterampilan tenaga kerja |
| Produk dapat dikustomisasi massal | Kebutuhan investasi teknologi yang besar |
| Model bisnis baru bermunculan | Risiko serangan siber dan kebocoran data |
Kunci menghadapinya terletak pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Keterampilan yang bersifat analitis, kreatif, dan kolaboratif justru semakin bernilai karena sulit digantikan mesin.
Society 5.0
Sebagai kelanjutan, Jepang memperkenalkan konsep Society 5.0 pada 2019. Bila Industri 4.0 menempatkan teknologi sebagai pusat, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusat dan teknologi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah sosial.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa yang memperkenalkan istilah Revolusi Industri?
Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui pada pertengahan abad ke-19.
Apa empat prinsip Industri 4.0?
Interkoneksi, transparansi informasi, bantuan teknis, dan keputusan mandiri.
Apa itu Making Indonesia 4.0?
Peta jalan pemerintah Indonesia yang diluncurkan tahun 2018 untuk menghadapi era Industri 4.0.
Sektor apa saja yang menjadi prioritas Making Indonesia 4.0?
Makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika.
Apa beda Industri 4.0 dan Society 5.0?
Industri 4.0 berpusat pada teknologi, sedangkan Society 5.0 berpusat pada manusia dengan teknologi sebagai alat bantu.
Apa risiko terbesar Industri 4.0 bagi tenaga kerja?
Tergantikannya pekerjaan rutin oleh mesin, sehingga dibutuhkan peningkatan keterampilan.